Jakarta, DN-II Proses seleksi anggota Dewan Pers periode 2025-2028 memasuki tahap baru dengan diumumkannya 18 nama yang lolos ke babak berikutnya. Di antara nama-nama tersebut, dua yang menarik perhatian adalah Dahlan Iskan dan Sayid Iskandarsyah. Namun, pencalonan keduanya memicu pro dan kontra di kalangan insan pers.
Sejumlah jurnalis menolak pencalonan Dahlan Iskan dengan alasan masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Pos yang hingga kini belum terselesaikan. “Bagaimana bisa membela masyarakat pers jika masalah PHK di medianya sendiri masih menggantung?” ujar seorang jurnalis, Hengky, Sabtu (22/2/2025).
Kasus ini telah menjadi perhatian publik sejak lama dan masih menyisakan persoalan bagi para mantan karyawan.
Sementara itu, Sayid Iskandarsyah juga menjadi sorotan karena tidak memiliki pengalaman di dunia jurnalistik dan tidak pernah bekerja sebagai wartawan. Meski pernah menjabat sebagai Ketua PWI Jaya, ia lebih dikenal sebagai pengurus organisasi ketimbang sebagai praktisi media. Selain itu, ia telah dikenai sanksi skorsing oleh Dewan Kehormatan PWI Pusat karena dugaan penyalahgunaan dana Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI yang berasal dari bantuan BUMN.
Kasus yang menjerat Sayid semakin memanas setelah adanya laporan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penyimpangan tersebut. Hal ini semakin memperkuat suara penolakan dari kalangan pers yang menilai bahwa figur yang akan duduk di Dewan Pers harus memiliki rekam jejak yang bersih dan kompetensi yang jelas dalam dunia jurnalistik.
Di sisi lain, ada pihak yang tetap mendukung pencalonan Dahlan dan Sayid. Mereka berpendapat bahwa pengalaman Dahlan sebagai pemilik media dapat memberikan perspektif berbeda dalam mengawal kebebasan pers. Namun, untuk Sayid, kritik lebih tajam mengingat ia tidak memiliki latar belakang sebagai wartawan dan kini tengah menghadapi persoalan hukum.
Dengan berbagai dinamika ini, seleksi anggota Dewan Pers periode ini diprediksi akan berlangsung panas. Masyarakat pers berharap agar proses pemilihan berlangsung transparan dan menghasilkan figur yang benar-benar memiliki integritas serta komitmen kuat untuk memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia.
Red
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
