Jakarta, DN-II “Indonesia membutuhkan keluarga-keluarga yang tangguh dan adaptif terhadap perkembangan zaman terutama dalam menghadapi era digital yang semakin mendominasi kehidupan masyarakat”, ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd di saat-saat awal menyampaikan pendapatnya dalam webinar bertema “Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas”, Jakarta, (30/12/2024).
Lebih lanjut dalam acara yang digelar oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) itu, Wihaji mengungkapkan adanya perubahan yang signifikan dalam struktur dan peran di kementerian yang dipimpinnya. Dengan perubahan itu dikataka oleh mantan Bupati Batang, Jawa Tengah, itu menunjukkan betapa pentingnya penguatan peran keluarga dalam pembangunan bangsa, yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan Kesehatan namun juga mencakup pendidikan, sosial, dan pengembangan sumber daya manusia. “Sangat penting untuk memastikan bahwa keluarga menjadi fondasi yang kuat bagi kemajuan Indonesia ke depan”, tegasnya.
Hal pokok bagi Wihaji adalah pentingnya pengumpulan data keluarga yang akan digunakan untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Kementerian ini bertanggung jawab untuk mendata lebih dari 75 juta keluarga di Indonesia, dengan fokus utama pada pasangan usia subur, kepala keluarga perempuan, serta keluarga dengan anak remaja dan lansia.
Data tersebut nantinya akan digunakan untuk mengembangkan kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga, yang merupakan fondasi dari kemajuan Indonesia ke depan. “Salah satu poin pentingnya adalah kita dikasih kewenangan untuk mendata keluarga”, ujarnya. Disebut oleh alumni Pascasarjana UNJ itu adalah, pada 75 juta keluarga yang terdata, 40 juta di antara adalah pasangan usia subur. “Ada keluarga dengan kepala keluarga perempuan sebanyak 11 juta”, tuturnya. “Ada juga keluarga yang memiliki anak remaja berumur 10 sampai 24 tahun”, tambahnya. Hal demikian kelak akan menentukan masa depan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. 
Dalam era digital, pria asal Sragen, Jawa Tengah, itu berharap para keluarga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Teknologi digital disebut telah mengubah cara berkomunikasi, bekerja, dan bahkan mendidik anak-anak. Keluarga yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan ini berisiko kehilangan pengaruh dan peran pentingnya dalam pembentukan karakter generasi muda.
Untuk itu salah satu langkah penting yang diusung oleh Kemendukbangga adalah peningkatan literasi digital di kalangan keluarga, khususnya bagi orang tua yang harus mampu membimbing anak-anak mereka untuk menggunakan teknologi dengan bijak. Hal ini menjadi tantangan besar, terutama mengingat adanya gap generasi antara orang tua yang lebih familiar dengan cara-cara tradisional dan anak-anak yang sudah tumbuh dengan teknologi digital.
Red/Casroni
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
